Saat Saham Lesu, MBMA & HRTA Justru Jadi Incaran Investor!
Di tengah tren pelemahan pasar saham, dua emiten justru mencuri perhatian investor asing. PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) dan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) mencatatkan net buy signifikan dalam perdagangan Jumat (28/2). Meski harga saham keduanya mengalami koreksi, volume transaksi dan minat investor tetap tinggi.
MBMA Memimpin Top Net Foreign Buy
MBMA menjadi emiten dengan net buy tertinggi, mencatatkan pembelian bersih sebesar 29,87 juta lembar saham. Meskipun harga sahamnya terkoreksi Rp10 atau turun 2,96% ke level Rp328 per lembar, minat investor asing terhadap saham ini tetap tinggi.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), MBMA mencatatkan foreign buy sebesar 40,11 juta lembar dan foreign sell sebesar 10,24 juta lembar. Hal ini menandakan adanya optimisme terhadap prospek bisnis perusahaan di tengah kondisi pasar yang kurang stabil.
Pada hari yang sama, volume saham MBMA yang diperdagangkan mencapai 70,07 juta lembar dalam 3.993 transaksi dengan total nilai Rp22,92 miliar. Sebagai perbandingan, pada Kamis (27/2), volume perdagangan saham MBMA hanya 30,50 juta lembar dalam 3.224 transaksi senilai Rp10,53 miliar. Saat itu, harga saham MBMA juga mengalami koreksi sebesar Rp16, turun dari Rp338 menjadi Rp322 per lembar.
HRTA Menyusul di Posisi Kedua
Tak hanya MBMA, HRTA juga menjadi salah satu saham yang paling banyak diburu investor asing. HRTA menempati posisi runner-up dalam daftar top net buy dengan pembelian bersih sebesar 23,97 juta lembar saham.
Dalam perdagangan Jumat (28/2), foreign buy saham HRTA tercatat sebesar 28,97 juta lembar, sementara foreign sell hanya 5 juta lembar. Meski begitu, harga saham HRTA tetap mengalami penurunan sebesar Rp4, ditutup di level Rp472 per lembar.
Volume perdagangan saham HRTA mencapai 44,01 juta lembar dengan nilai transaksi Rp20,99 miliar dalam 2.622 kali transaksi. Sehari sebelumnya, saham HRTA juga mengalami penurunan harga. Pada Kamis (27/2), saham HRTA dibuka di level Rp476 dan akhirnya melemah Rp59 dari harga sesi pagi. Saat itu, volume transaksi mencapai 53,94 juta lembar dalam 4.220 kali transaksi dengan total nilai Rp27,16 miliar.
Mengapa MBMA dan HRTA Menjadi Incaran Investor?
Meskipun harga saham MBMA dan HRTA mengalami penurunan, tingginya minat investor asing menunjukkan adanya kepercayaan terhadap fundamental kedua perusahaan ini. Beberapa faktor yang mungkin menjadi daya tarik bagi investor antara lain:
- Prospek Industri – MBMA bergerak di sektor material baterai yang memiliki prospek cerah seiring dengan meningkatnya permintaan kendaraan listrik. Sementara itu, HRTA yang bergerak di industri emas dan perhiasan tetap menjadi pilihan menarik di tengah ketidakpastian ekonomi.
- Strategi Bisnis – Kedua emiten ini memiliki strategi ekspansi dan pengelolaan bisnis yang solid, membuatnya menarik bagi investor yang berpikir jangka panjang.
- Likuiditas Saham – Volume transaksi yang tinggi menunjukkan bahwa saham MBMA dan HRTA cukup likuid, sehingga menarik bagi investor institusional.
Meskipun pasar saham secara umum mengalami tekanan, MBMA dan HRTA justru mencatatkan net buy yang signifikan dari investor asing. Hal ini mengindikasikan bahwa kedua emiten masih memiliki daya tarik kuat di mata pelaku pasar. Dengan prospek industri yang menjanjikan serta strategi bisnis yang solid, MBMA dan HRTA berpotensi untuk terus menjadi incaran investor di masa mendatang.