Bitcoin Stagnan di $96rb: Apakah Kegelisahan Tarif AS Akan Menjadi Pemicu Lonjakan atau Kemerosotan?
Bitcoin, mata uang kripto terbesar di dunia, tampak stagnan pada hari Kamis karena investor tampaknya ragu-ragu mengambil langkah di tengah ketidakpastian global. Di saat pasar menanti katalis baru, harga Bitcoin hanya bergerak tipis, memperlihatkan bagaimana ketegangan tarif AS dan kebijakan Federal Reserve terus membayangi pergerakan aset digital ini.
Bitcoin Terjebak di Zona Konsolidasi: Apa Penyebabnya?
Pada pukul 13.15 WIB, Bitcoin tercatat naik tipis 0,2% menjadi $96.811,1. Namun, pergerakan ini tampak kurang signifikan mengingat token ini telah berjuang untuk keluar dari fase konsolidasi yang ketat.
Kenaikan hampir 1% yang tercatat pada hari Rabu sempat memberikan secercah harapan. Dorongan tersebut dipicu oleh keterlibatan diplomatik baru antara AS dan Rusia terkait konflik Rusia-Ukraina. Pasar sempat optimis bahwa potensi resolusi konflik dapat mengurangi kekhawatiran inflasi global. Namun, kegembiraan itu hanya bertahan sesaat karena Bitcoin kembali ke jalur stagnan.
Kegelisahan Tarif AS dan Dampaknya pada Bitcoin
Pasar keuangan global sedang dilanda ketidakpastian, terutama setelah berita tentang potensi kenaikan tarif AS untuk produk-produk seperti mobil, semikonduktor, dan farmasi. Kebijakan ini menimbulkan sentimen risk-off di kalangan investor, yang cenderung menjauh dari aset berisiko seperti Bitcoin.
Bukan hanya tarif AS yang menjadi sorotan. Investor juga mencermati langkah selanjutnya dari Federal Reserve. Notulen rapat terbaru mengindikasikan bahwa bank sentral AS tidak terburu-buru menurunkan suku bunga hingga 2025. Ini menjadi kabar kurang menggembirakan bagi Bitcoin yang cenderung berkinerja buruk di lingkungan suku bunga tinggi akibat sensitivitasnya terhadap kondisi likuiditas.
Pejabat Fed juga mengungkapkan kekhawatiran bahwa tarif yang diusulkan oleh Trump dapat mengganggu rantai pasokan global, meningkatkan biaya, dan memicu inflasi. Jika skenario ini terjadi, Bitcoin bisa berada di bawah tekanan tambahan.
Volume Perdagangan Lesu: Menunggu Pemicu Baru
Volume perdagangan Bitcoin di pasar kripto tetap lemah, mencerminkan sikap hati-hati investor. Para analis teknikal menunjukkan bahwa Bitcoin saat ini berada dalam pola bertahan. Tanpa katalis baru, harga kemungkinan akan tetap terjebak dalam kisaran sempit.
Penembusan harga ke salah satu arah diprediksi akan memberikan momentum yang dibutuhkan untuk menghidupkan kembali aktivitas pasar. Namun, sampai sinyal tersebut muncul, investor tampaknya memilih untuk menunggu dan mengamati.
Bagaimana Nasib Altcoin?
Sementara Bitcoin stagnan, altcoin menunjukkan pergerakan yang beragam namun marjinal. Ether, kripto terbesar kedua di dunia, naik 0,5% menjadi $2.728,8.
Di sisi lain, XRP justru turun 1,3% menjadi $2.7028. Beberapa altcoin lain seperti Solana dan Cardano mencatat kenaikan masing-masing 2% dan 0,8%. Polygon hanya naik tipis 0,3%.
Token meme seperti Dogecoin naik 0,2%, sedangkan $TRUMP turun 0,7%. Pergerakan altcoin yang beragam ini memperlihatkan bahwa pasar kripto secara keseluruhan masih bergerak hati-hati, mengikuti jejak Bitcoin.
Apakah Bitcoin Akan Memecah Kebuntuan?
Pertanyaan besar yang kini ada di benak investor adalah: apa yang akan memicu pergerakan Bitcoin selanjutnya? Beberapa faktor yang mungkin menjadi katalis adalah perkembangan diplomatik antara AS dan Rusia, keputusan tarif AS, serta sikap Federal Reserve terhadap suku bunga.
Jika diplomasi global mengarah pada perbaikan kondisi geopolitik, Bitcoin bisa saja mendapatkan dorongan positif. Namun, jika ketegangan meningkat atau tarif baru diberlakukan, Bitcoin mungkin akan menghadapi tekanan lebih lanjut.
Para analis sepakat bahwa Bitcoin saat ini berada di persimpangan jalan. Penembusan di atas kisaran harga saat ini dapat memicu reli yang lebih luas, sementara penurunan di bawah level support dapat memperpanjang fase stagnan. Investor diharapkan terus memantau indikator makroekonomi dan peristiwa geopolitik untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut.